Upacara Peringatan HUT ke-80 PGRI dan HGN 2025 Kabupaten Batanghari Berlangsung Penuh Haru
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sekaligus Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2025 tingkat Kabupaten Batanghari berlangsung khidmat di Alun-alun Kabupaten Batanghari. Upacara dimulai tepat pukul 09.00 WIB dengan suasana cuaca yang tidak panas dan tidak pula hujan—menambah khidmatnya upacara.
Bupati Batanghari Muhammad Fadhil Arief bertindak sebagai Pembina Upacara, sementara ribuan peserta hadir mewakili guru, tenaga kependidikan, pelajar, organisasi profesi, serta tamu undangan. Hadir juga Pengurus PGRI Provinsi Jambi yaitu Bpk. Solbi, S.Pd, M.Pd, Ismiyanto, S.Pd, dan Sopianto, S.Pd.I.
Jalannya Upacara
Upacara dibuka dengan komando tegas dari Komandan Upacara,
“Kepada Bendera Merah Putih… Hormat… Grak!”
Ribuan peserta serentak memberi hormat saat Sang Saka Merah Putih dikibarkan dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dengan penuh semangat.
Setelah pengibaran bendera, upacara dilanjutkan dengan mengheningkan cipta yang dipimpin langsung oleh Pembina Upacara.
Pemberian Penghargaan dan Apresiasi
Sebelum penyampaian amanat, Bupati Batanghari bersama Ibunda Guru Kabupaten Batanghari menyerahkan penghargaan/cenderamata kepada puluhan guru yang memasuki usia purna tugas (60 tahun). Selain itu, diberikan pula apresiasi kepada guru-guru berprestasi dan berdedikasi, sebagai bentuk penghormatan atas kontribusi mereka dalam memajukan pendidikan di Kabupaten Batanghari.
Amanat Upacara
Dalam amanatnya yang memuat pidato resmi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Pembina Upacara menyampaikan beberapa pesan penting. Ia menegaskan bahwa menjadi guru adalah tugas mulia yang menuntut stamina intelektual, sosial, dan moral yang prima.
“Idealnya guru memiliki stamina intelektual, sosial, moral yang prima, teguh, dan tegar di tengah berbagai tantangan dan permasalahan. Saya mengajak para guru untuk meluruskan niat, memperkuat motivasi, dan meneguhkan jati diri.”
Beliau juga mengimbau masyarakat dan orang tua agar lebih menghargai perjuangan para guru.
“Jangan hanya menilai kinerja dan menghakimi mereka dari angka-angka. Sejatinya, tanggung jawab pendidikan yang pertama dan utama adalah orang tua dan keluarga.”
Kepada para murid, Pembina menyampaikan lima nasihat Presiden Prabowo Subianto:
• Belajarlah yang baik!
• Cintai Ayah dan Ibu!
• Hormati Guru!
• Rukun sama teman!
• Cintai Tanah Air dan Bangsa!
Ia menutup amanat dengan pesan mendalam:
“Muliakanlah dirimu dengan memuliakan gurumu. Ridha dan doa gurumu menentukan masa depanmu.”
Momen Haru Pembacaan Puisi
Suasana upacara bertambah haru ketika salah seorang guru membacakan puisi berjudul “GURU” karya Dessy Sasmita, S.Pd. Cuplikannya menggambarkan perjuangan guru di era sekarang:
Menjadi guru di masa sekarang, bukan sekadar mengajar, tapi juga bertahan,
antara niat tulus mendidik dan tekanan dari banyak arah,
sedikit menegur dianggap melanggar hak anak, sedikit keras dianggap kejam,
Namun jika kami biarkan anak-anak tumbuh tanpa arah tanpa adab… guru juga yang disalahkan.
Pembacaan puisi tersebut membuat suasana semakin emosional dan memberikan refleksi mendalam bagi para peserta upacara mengenai perjuangan serta dedikasi seorang guru.